maxresdefault

Tulisan ini merupakan tanggapan dari artikel pustakawan UGM, Purwoko, bahwa tak ada yang baru di bidang perpustakaan.

Beberapa waktu yang lalu saya diundang Google Indonesia untuk bicara tentang profesi pustakawan di era digital. Bayangin Fergusoo, elo mengenalkan dirimu sebagai seorang pustakawan ketika bicara panel kelas profesional di acaranya komunitas simbahnya inovasi teknologi: Google Summit di JHCC Jakarta. Seorang pustakawan yang diundang sebagai tamu dan bicara tentang profesi dirinya ditengah lautan profesional teknologi Informasi di Indonesia.

Dan reaksi audiens sangat mengejutkan. Diluar dugaan, ternyata mereka sangat antusias, tertarik apa yang dikerjakan pustakawan di era digital. Mereka justru tidak terlalu kaget, atau terkejut, ketika profesi pustakawan merambah bidang TI. Artinya, jelas ini menggugurkan stigma di kalangan pustakawan yang ngerasa rendah diri, atau minder dengan profesinya.

Andriyanto, seorang System Security dari Cisco Indonesia bertanya antusias:

” Pak Yogi, trus aktifitas pustakawan di tempat kerja bapak ngapain ? Bukankah ditempat kerja bapak tidak ada buku dan kertas lagi “

Saya jelaskan dengan analogi sesederhana mungkin. Maklum bicara dengan komunitas IT, khususnya orang orang system, harus dengan bahasa yang mudah dipahami, menggunakan big picture, holicopter view.

Pustakawan itu mirip seorang chef atau koki. Ada beragam buah, sayuran yang kemudian diolah menjadi bumbu. Berhenti disini? Gak, tidak semua bumbu dan buah buahan kita gunakan. Masing masing punya value berbeda. Nah langkah pertama, seorang pustakawan harus mengasesmen si bumbu tadi. Mengolah sesuai dengan resep menjadi sebuah menu makanan. Kita bisa menjadikannya gudeg, soto, nasi goreng, ongol ongol, combro dan lainnya. Makanan yang sudah tersaji, kemudian kita sajikan sesuai lokusnya, bisa di foodcourt, restotan, mal, atau lainnya. So jika ada pembeli yang tertarik, si pustakawan harus dengan sigap menemubalikan makanan serta melakukan kolaborasi dengan pengguna mengemas menu baru. Begitu siklusnya. Dalam satu kalimat, peran pustakawan ya mengolah dan bersih bersih data.

Budi Dirga, spesialis editing dari Vizrt bahkan menambahkan:

“Dalam lautan data yang penuh dengan limbah, Kita butuh para profesional yang aktifitasnya bersih bersih data. Temen temen pustakawan bisa berperan disini alih alih hanya sekedar mengelola buku”

Saya rasa Budi benar, dan seolah menjawab keraguan teman saya yang pustakawan UGM selalu berteriak repetitif :

“Tak ada yang baru di bidang perpustakaan. Konsep Makerspace, Learning commons, Community hub, digital media hub dll itu adopsi lama dari tugas tugas kepustakawanan dengan branding baru. itu adalah stock lama yang dipoles baru”: ujarnya.

Bisa jadi Purwoko benar, bahwa tak ada yang baru di bidang ini. Tapi bagi saya pribadi, tak ada yang salah dengan pola pola adaptasi baru. Kita harus respek dengan orang orang seperi Purwoko, yang ortodoks sebagai keseimbangan di bidang ini. Mempertahankan kemurnian nilai nilai lama, sekuat hati. Bagi saya, hal tersebut sangatlah manusiawi, sebagai mekanisme alamiah pertahanan diri.

Seperti halnya para seniman dangdut yang mencak mencak mendengar lagunya Via Valen “menggapai bintang” atau goyangan Siti Badriyah yang terpengaruh Blackpink. Apapun jaman sudah berubah. Tak ada yang abadi. Pengguna sudah bosen dengan cengkok lengkungnya Evi Tamala atau cengkok soprannya Elia Kadam. Mereka meninggalkannya. Dangdut diera kekinian hadir gemerlap layaknya Kpop. User experience milenial butus sesuatu yang menarik, instan, dan moderen serta interaktif. Dan faktanya mereka yang beradaptasi dengan keadaanlah yang bertahan.

Kembali ke laptop.

Saya rasa pilihan kita di era kekinian semakin sedikit. Mau ngumpet terhadap perkembangan dan inovasi teknologi? Ibarat membendung matahari dengan telapak tangan.

Nah, apakah anda ingin seperti Ellya Kadam, atau Via Valent wahai para Pustakawan ? Jangan salah paham dulu yak…maksudnya pustakawan toh harus meningkatkan skill dan knowledgenya agar bisa beradaptasi dengan perkembangan jaman. Bukan dalam arti linier, pustakawan mirip Ellya Khadam ..tentu tidak……………………jintong tong jin tong

Tabik

Advertisements